Anti Kekerasan Rindu Kekenyalan, situs resmi-nya Hendro Plered Jogja-Indonesia

Archive for February, 2010


Syuting adalah waktu yang menjemukan………

Hal ini saya alami beberapa kali kawan, belum lama ini terulang lagi saya terlibat dalam sebuah produksi FTV – produksi Studio X- Dharmawangsa, yang konon hasilnya ditayangkan di SCTV. Kali ini lakon “Ada Cinta Di Blangkonmu” yang mengambil lokasi syuting di beberapa tempat di Yogyakarta. seperti Museum Beteng Vredeburg, Jalan malioboro, jalan Depan taman Budaya, Pleret, Kotagede, dan Pasar Imogiri.
Bayangkan tidak jemu…..sejak pukul 7.00 pagi, saya sduah di Calling, harap stand by dilokasi. sementara ketika datang dilokasi belum ada seorang yang nongol dari crew. dan waktu selalu berubah ubah dari rencana. misalnya Schedule, seharusnya mengambil Take Scene 17, tiba tiba saja Jumping ke Scene 27…katanya semua tergantung dari Sutradara…
Meski aku telah beberapa p[roduksi kuikuti , seprti Film layar lebar Marsinah, Live Pasar Rakyat 76, Kisah anak Nusantara, Wara Wiri, Film anti Korupsi, Jesi bawa lari cintaku, Dan lain lain, tetapi mungkin dulu tak sesibuk sekarang ini. yang ditengah tengah Syutting aku juga nyambi jadi Reporter sebuah kantor berita di Jakarta.
Cuaca Hujan kadang menjadi ganjalan……apalagi kalau harus ngambil gambar diluar studio.. yang lebih gemes lagi , sudah menghafalkan naskah cape cape…ternyata banyak dicancel, malah ada beberapa dialog yang hanya improvisasi….
selama 5 hari dari Selasa16 -20 Februari 2010, ini benara benar “tersiksa” didepan kamera. tetapi puluhan pengalaman dari bagaimana membuat Film, mengambil Angle, mendirect, dan menembak Kamera, serta tata Cahaya, dan lagi memenej artis..nampaknya itu yang dapat memijiti badanku yang Lungkrah, linu dan pegal pegal ini….tetapi mungkin juga itu karena Kostumku yang ketat, tersiksa juga Celana Jeans Butut, serta Kaos yang jarang ganti… serta asesoris property yang ala Punk….Kadang merasa kapok, tetapi kadang merasa asyik…sebel campur kangen !

KETAKUTAN SBY KETIKA MASUK TAHUN IMLEK 2561…

Puncak Ketakutan pak SBY bertambah, adalah ketika Ahli Nujum Istana, Ramandi ( 65 ) mengatakan, bahwa setelah tanggal 14 Februari nanti bapak harus hati hati lagi……… Pak SBY semakin gusar, lalu bertanya pada Ramandi > ” Apa yang akan terjadi setelah Valentine day ? “, kata SBY. ” Bukan ..bukan masalah Valentine Pak, tetapi 14 Februari adalah tahun Baru Imlek 2561, Tahun Macan !, sedang Kerbau kalau dengan macan akan lari terbirit birit..karena Macan adalah Raja Hutan ! ” SBY diam sejenak, kemudian mencari prajurit teliksandi Istana… sete;lah menghadap, SBY berkata : ” bisakah kamu susupkan ke para demonstran, besok kalau Aksi Demo tidak membawa Kerbau, tetapi membawa macan ? ! Prajurit teliksandi : ?????????????? !!!!!!!!

Acara Rabu Pungkasan, Meriah dan Banyak Copet !

Bertepatan Hari Selasa, 9 Februari 2010, kembali digelar acara Tradisi Rabu Pungkasan, acara tersebut selalu memakai kalender Jawa, yakni setiap hari Selasa Malem Rabu minggu terakhir dibulan Sapar. Sebelumnya digelar pula Pasar Malam yang digelar 10 hari sebelumnya , bertempat di Lapangan Desa Wonokromo. Pleret, Bantul, Yogyakarta.
Pada puncak malam Rabu-nya diadakan acara “Ngarak Lemper “. Yakni semacam Karnaval yang Start-nya dimulai dari halaman Masjid Al Huda Karang Anom, Jalan Imogiri Timur, kemudian berjalan 2 Km, menuju balai Desa Wonokromo. Acara Ngarak Lemper sendiri diadakan baru 10 tahun belakangan ini. Tokoh Masyarakat sekaligus penggagas acara Ngarak Lemper, Gunawan (51) mengatakan bahwa, diadakannya acara ini untuk identitas acara Rabu Pungkasan. “ kalau di Saparan Gamping ada Bekakak, di Acara Yaqowiyu Jatinom, Klaten ada Apem, Di Jolosutro Piyungan ada Kupat, maka di Wonokromo ini harus mempunyai Ciri khas, saat itu atas rembug Warga, disepakati dengan Ngarak Lemper, yang kita arak disini adalah Lemper Raksasa !, ndak mungkin mas, lha wong kalau Lemper beneran kan kecil, Lemper Raksasa itu kita namakan Kyai Boga Wiwaha, yang artinya Panganan Yang disuguhkan !”, demikian kata lelaki yang juga perangkat desa itu.

Arak arakan Lemper Raksasa didahului oleh para Prajurit / Bregodo : ” Kudo Sembrani “, Layaknya sebuah Prajutit Kraton. Ada pula Dayang dayang cantik, Bregodo Musik seni Tradisionil seperti : Rodat, Hadroh dan Sholawatan. Tak ketinggalan sebuah Gunungan menambah keindahan kirab tersebut. dibelakang kirab nampak Bupati bantul, Drs H. Idham Samawi bersama pejabat Muspida Bantul, Muspika Pleret. berada diatas andong terbuka dan juga ada yang naik Kuda.

Setelahnya tiba di Pendopo Bali desa Wonokromo, acara pemotongan “ Kyai Boga Wiwaha ” , dilakukan. sebelumnya diadakan ” Acara Umbul Donga “.Bupati Bantul dalam sambutannya sangat apresiatif sekali pada acara ritual semacam ini. “ Semoga acara budaya yang sudah turun temurun dari nenek moyang kita bisa dilestarikan dan menjadikan media silahturakhim serta wujud syukur kita kepada Alloh SWT, Lanjut Idham. “Umbul Donga “, acara berdoa yang dipimpin langsung oleh Lurah Desa Wonokromo, Guswanto. Acara dilanjutkan dengan seorang prajurit maju untuk menyerahkan Pedang kepada Bupati, pemotongan Lemper Raksasa diiringi Tembang Mocopat Sinom oleh Bagus, penggiat seni Mocopat dari Dusun Wonokromo. Hadir juga tokoh tokoh masyarakat Desa Wonokromo.

Massa yang sudah menunggu sejak jam 20.00 WIB, sudah tidak sabar lagi, meski sudah dibagikan Lemper kecil, dengan cara disebar tetapi pendopo balai Desa Wonokromo, akhirnya menjadi tumpah ruah. Bupati-pun tak luput berada ditengah kerumunan massa yang berjubel berebut Lemper itu.
Mbah Warno (62 ), meski dia harus berjalan 5 km, tetapi dia beranikan diri untuk ikut berebut lemper . “Kulo pitados mas, bilih Lemper menika, saged ngrejekeni ! “ ( Saya Percaya Mas, kalau Lemper ini bisa mendatangkan Rejeki –Ind ), kata Lelaki Tua asal Dusun Ngrombo. Trimulyo, Jetis, Bantul. Acara berakhir pada pukul 22.30.

Karang Taruna Sultan Agung Desa Wonokromo, selaku Panitia penyelenggara, bersyukur acara bisa berlangsung dengan aman. Salah seorang panitya Eko didampingi Ketuanya Anas, menyanyangkan masih banyaknya pencopet dalam kegiatan tersebut : “ Banyak sekali yang melapor kehilangan HP, Dompet, atau Barang berharga lainnya !. Eko menambahkan , Korban pencopetan termasuk Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kab. Bantul, Drs. Suyoto.
“ Untung isinya Cuma sedikit, tetapi yang penting kan surat suratnya …”, kata pak Yoto,sambil makan Lemper.