Anti Kekerasan Rindu Kekenyalan, situs resmi-nya Hendro Plered Jogja-Indonesia

Kasihan Mbah JO, Mantan Napi Pembunuhan Berencana itu…….

Namanya yang tertulis di KTP adalah Ngatijo, tetapi orang kebanyakan memanggilnya Mbah JO. Lahir di kampung Warung Boto, Yogyakarta, pada Tahun 1940. anak bungsu dari 6 bersaudara. Dia pernah duduk di Sekolah Rakjat ( SD ) sampai kelas IV di SR Batikan, Kalimambu. Setelah DO, dia belajar bekerja di kerajinan Kulit di Pak Gumari, Warungboto, saat itu per bulan digaji Rp.5 ( lima ) rupiah. pekerjaan ini akhirnya membuat dia ahli dalam special membuat Koper. pekerjaan ini ditekuninya sampai Tahun 1990 dengan berganti ganti tempat dan juragan. Pernah bekerja di Manding Bantul selama 2 tahun, di tempat Bu Sri sampai Tahun 1993. Sejak tahun itu pulalah dia menetap di Demangan, Jambidan, Banguntapan, Bantul. ( 13 Km tenggara kota Jogja ).
Ditahun 2002 , Mbah Jo masuk di penjara, Bui !. dan baru keluar 2008. dia tervonis 8 tahun. karena kasus pembunuhan berencana, yang korbannya adalah kakak kandungnya sendiri. namun ada pengurangan pengurangan.
Sekarang sudah bebas. Dia ingin menikmati sisa hidup dengan mengais rejeki…membuat kapal kapalan, Pesawat tempur dan lain lain..
Mbah Jo, Tinggal di sebuah bangunan 3X2,5 Meter. Tidur, Masak jadi satu. Jadi tidak layak disebut sebuah Rumah. dia tinggal sebatang kara. Mbah Jo berharap ada orang yang sudi mengajak bekerja sesuai dengan keahliannya – sambil dia utak atik membuat kerajinan tersebut – Mbah Jo juga Ahli merangkai ( Ndekor ) Janur. Menatah Kulit… dua pekerjaan ini sekarang jarang dilakukan, sebab selain butuh modal juga butuh kolega…

Untuk itulah, saya mengetuk hati kawan kawan semua apabila berkenan membeli hasil karya Mbah Jo, untuk pajangan atau hiasan diruang tamu atau untuk souvenir, silahkan hubungi Mbah Jo langsung, dengan alamat : Dusun Demangan RT 9, Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta kodepos 55195.
Lewat media ini, kami mengetuk hati kawan kawan semua,berikanlah pertolongan bantuan materiil kepada dia…. mau datang langsung, mau lewat rekening silahkan : BCA KATAMSO No. 4450989865 a/n  
Endra Harsaya. Terimakasih !

Kliping……….

Frustasi, Hendro Plered Gantung Diri
Senin, 19 Oktober 2009 13:32:00
YOGYA (KRjogja.com) – Hendro Plered, seorang seniman sekaligus aktifis pemerhati Yogyakarta melakukan gantung diri di sebuah tempat sakral, Tugu Yogyakarta, Senin (19/10). Namun jangan salah, aksi nekat mengakhiri hidup ala gantung diri ini bukanlah gantung diri dalam arti yang sebenarnya, ini merupakan aksi teatrikal bentuk rasa frustasi akan semakin tidak jelasnya nasib Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY.
“Saya melakukan aksi ini atas nama pribadi sebagai bentuk rasa frustasi dan putus asa terhadap nasib RUUK DIY yang tidak jelas nasibnya hingga kini. Yang saya tegaskan ialah, Yogyakarta itu bukan boneka yang selalu diombang-ambingkan. Saya ikuti perkembangan di media, RUUK DIY seakan-akan menjadi permainan saja. Rakyat yang bingung,” terang Hendro kepada KRjogja.com sambil bergelantungan dengan tali tambang di Tugu Yogyakarta.
Kebingungan rakyat, jelas Hendro, terletak pada opsi penetapan ataupun pemilihan kepala daerah yang menjadi tarik ulur. Dirinya sebagai orang awam mengharapkan segera ada kejelasan mengenai dua hal tersebut. “Kalau pemilihan ya pemilihan, jika penetapan ya penetapan. Jangan diombang-ambingkan begini. Artinya segera laksanakan diantara dua pilihan tersebut. Nantinya kan ada evaluasi, yang penting rakyat Yogya sejahtera. Itu saja,” tambahnya.
Saat disinggung mengenai pilihannya, seniman kawakan ini mengaku ada di tengah-tengah antara pemilihan dan penetapan. Baginya, pemerintah harus segera melaksanakan salah satu opsi tersebut. “Artinya, apapun itu, laksanakan dengan segara. Jangan bertele-tele dan segera ditimbang baik-buruknya demi masyarakat DIY itu sendiri,” tegas Hendro.
Sebelum melakukan aksi nekatnya, Hendro Pleret yang memakai pakaian khas Jawa lengkap dengan blangkon ini terlebih dahulu melakukan ritual doa mengelilingi Tugu. Lebih dari 45 menit, Hendro Plered membiarkan lehernya bergelantungan pada seutas tali di Tugu Yogyakarta. Aksi ini sempat menarik perhatian beberapa pengendara jalan yang kebetulan melintas di jalan protokol tersebut. (Dhi)

Pengolahan Sampah Grebeg Sampah Ajak Warga Yogya Kelola Limbah

1 Maret 2010 – 16:09 WIB Hendro Plered  VHRmedia, Bantul -

Masyarakat Peduli Sampah Jogja menggelar acara Grebeg Sampah di Tempat Pembuangan Akhir Piyungan, Bantul. Mereka mengajak masyarakat bertanggung jawab mengolah sampah.   “Masih banyak pihak yang menilai sampah adalah masalah pribadi, sehingga sampah hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tanpa diselesaikan!” kata Agus Hartana, ketua panitia acara yang juga Direktur Lembaga Studi dan Tata Mandiri (Lestari), Minggu (28/2).   Menurut dia, Grebeg Sampah bertujuan mengingatkan masyarakat akan bahaya sampah jika tidak dikelola dengan benar. Masyarakat Yogyakarta harus segera menemukan solusi pengelolaan sampah, karena usia teknis TPA Piyungan akan habis tahun 2012.   Acara Grebeg Sampah menampilkan atraksi jathilan, festival layang-layang, dan peragaan busana, yang semuanya diadakan di atas gunungan sampah. Seniman Jemek Supardi juga berpantomim di atas gunungan limbah warga Yogyakarta ini. (E1)  Foto: VHRmedia / Hendro Plered