Anti Kekerasan Rindu Kekenyalan, situs resmi-nya Hendro Plered Jogja-Indonesia

Benarkah, 80 Persen Televisi Harus Mati ? ( http://www.radarjogja.co.id/berita/utama/8274-80-persen-televisi-harus-mati-.html)

Saat menjadi pembicara dalam Milad Jurusan Komunikasi UII di Hotel Quality kemarin (26/5), Garin memaparkan orasi berjudul Meruwat Budaya Komunikasi, Membangun Karakter Bangsa.
Indonesia adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya dan karakter. Televisi, dengan segenap tayangan hiburan dan sinetronnya, mengeliminasi keragaman budaya dan menjadikan tayangan menjadi serupa. “Harusnya kita bangga pada keragaman karakter yang kita punya. Tapi tayangan di televisi malah menyeragamkan semua karakter kita,” ujarnya.
Misalnya tayangan kompetisi menyanyi. Semua keluarga kontestan harus tampil seragam. “Nari-nari sambil bawa poster. Semua disetting begitu. Apa harus tampil begitu? Kakek-kakek yang tidak pernah joget di depan umum terpaksa joget sebagai bentuk dukungan terhadap cucu. Padahal itu bukan budayanya,” papar sutradara Opera Jawa ini.
Penyeragaman dalam fisik dan tayangan yang mengumbar kemewahan, lanjut Garin, menunjukkan tidak adanya kedewasaan dalam komunikasi dari televisi nasional kepada penontonnya. “Anak-anak kita warisan komunikasinya terbatas. Karena yang disuguhkan televisi juga begitu-begitu saja,” terangnya.
Garin mengingatkan efek dari tayangan televisi tidak sederhana. Efeknya banyak dan berpotensi menciptakan masyarakat yang menyepelekan komunikasi tayangan televisi. Masyarakat yang cenderung menyelepelekan, pada akhirnya akan juga disepelekan. “Tayangannya tidak bermutu. Sinetronnya tidak bisa diambil sisi positifnya. Masyarakat jadi menganggap sepele tayangan televisi kita. Pada akhirnya, kita akan disepelekan oleh bangsa lain karena tidak bisa menghargai televisi kita,” jelasnya.
Menurut Garin, masyarakat Indonesia perlu menghijrahkan pola pikir komunikasi berbudaya. “Tayangan kita tolong dibenahi. Sekarang ini, bahkan tayangan lawak sudah tidak menghibur. Masak ngelawak pukul-pukulan,” ujarnya.
Indonesia juga bisa mencontoh dari Thailand. Di negara itu, meski globalisasi dan tayangan hiburan juga membanjir, produksi film lokal masih bisa berkreasi tanpa terseret arus. Di festival film internasional, Thailand bahkan menang lewat film horor.
“Thailand menang lewat film horor. Sementara horor Indonesia? Sama sekali tidak mendidik. Jauh dari penggambaran karakter bangsa,” tegasnya. (luf)

80 Persen Televisi Harus Mati
JOGJA- Sineas dan Budayawan Garin Nugroho dengan tegas menyatakan 80 persen televisi nasional harus mati atau tidak lagi beroperasi. Kebanyakan televisi saat ini tidak memiliki etika komunikasi yang baik dan mencerdaskan. Informasi yang ditampilkan instan, seragam, dan serba cepat. Cepat tumbuh, namun cepat pula hancur.
Saat menjadi pembicara dalam Milad Jurusan Komunikasi UII di Hotel Quality kemarin (26/5), Garin memaparkan orasi berjudul Meruwat Budaya Komunikasi, Membangun Karakter Bangsa.
Indonesia adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya dan karakter. Televisi, dengan segenap tayangan hiburan dan sinetronnya, mengeliminasi keragaman budaya dan menjadikan tayangan menjadi serupa. “Harusnya kita bangga pada keragaman karakter yang kita punya. Tapi tayangan di televisi malah menyeragamkan semua karakter kita,” ujarnya.
Misalnya tayangan kompetisi menyanyi. Semua keluarga kontestan harus tampil seragam. “Nari-nari sambil bawa poster. Semua disetting begitu. Apa harus tampil begitu? Kakek-kakek yang tidak pernah joget di depan umum terpaksa joget sebagai bentuk dukungan terhadap cucu. Padahal itu bukan budayanya,” papar sutradara Opera Jawa ini.
Penyeragaman dalam fisik dan tayangan yang mengumbar kemewahan, lanjut Garin, menunjukkan tidak adanya kedewasaan dalam komunikasi dari televisi nasional kepada penontonnya. “Anak-anak kita warisan komunikasinya terbatas. Karena yang disuguhkan televisi juga begitu-begitu saja,” terangnya.
Garin mengingatkan efek dari tayangan televisi tidak sederhana. Efeknya banyak dan berpotensi menciptakan masyarakat yang menyepelekan komunikasi tayangan televisi. Masyarakat yang cenderung menyelepelekan, pada akhirnya akan juga disepelekan. “Tayangannya tidak bermutu. Sinetronnya tidak bisa diambil sisi positifnya. Masyarakat jadi menganggap sepele tayangan televisi kita. Pada akhirnya, kita akan disepelekan oleh bangsa lain karena tidak bisa menghargai televisi kita,” jelasnya.
Menurut Garin, masyarakat Indonesia perlu menghijrahkan pola pikir komunikasi berbudaya. “Tayangan kita tolong dibenahi. Sekarang ini, bahkan tayangan lawak sudah tidak menghibur. Masak ngelawak pukul-pukulan,” ujarnya.
Indonesia juga bisa mencontoh dari Thailand. Di negara itu, meski globalisasi dan tayangan hiburan juga membanjir, produksi film lokal masih bisa berkreasi tanpa terseret arus. Di festival film internasional, Thailand bahkan menang lewat film horor.
“Thailand menang lewat film horor. Sementara horor Indonesia? Sama sekali tidak mendidik. Jauh dari penggambaran karakter bangsa,” tegasnya. (luf)

Partiman ” Bawor “, Seorang Pengamen Jalanan terkena Tumor ganas, menunggu uluran tangan anda !

Jika anda pernah menikmati lesehan Jadah bakar di depan Pura Pakualaman, Yogyakarta, tentunya anda hanya ingat lagu lagu serta suara Kendang ( Ketipung ) Pipa hasil pukulan tangan partiman ” Bawor “, atau juga para warga disepanjang jalan, bantul, Sleman, Godean, Prambanan . nama Bawor, pengamen eksentrik dengan lagu lagunya tidak asing lagi. Laki laki itu bernama Partiman ( 38 ), warga asli Gombong, Kebumen. Dia sudah puluhan tahun tinggal di Yogyakarta, dulu sebelum kost di Bintaran, Mergangsan, Bawor sempat beberapa tahun Kost bersama Istri serta teman teman pengamen yang berasal sedaerahnya di Tepi kali Code, Ledok Gondomanan.

Iyah ( 39 ), Istrinya, Penyakit Bawor ini Sudah terjadi sejak 5 tahun lalu, tetapi saat itu, Bawor tidak mau Opearasi, Takut berakibat fatal, demikian istrinya menjelaskan. jadi Partiman ” Bawor ” saluran usus Buang air besarnya, tidak lagi melalui dubur, tetapi Ususnya dikeluarkan dari perutnya !, demikian Imbuh Iyah.
nah ketika Kumat,  Yakni sejak 4 bulan yang lalu, Bawor tidak kelihatan lagi di jalanan, juga tabuhan ketipung / kendangnya tidak lagi terdengar di Depan Pura Pakualaman. karena derita sakitnya yang tak kunjung usai. Konon Dokter mengatakan, Bawor mengidap penyakit Tumor ganas.
Istrinya,  sudah berusaha dibawa ke Rumah Sakit, dari RSUD Wirosaban, dilarikan ke RS Sarjito, ketika di RS Sarjito, dokter bilang cukup berobat jalan, dan seketika itu, oleh istrinya langsung dibawa Pulang ke Gombong.
Rumah di Gombong-pun, tak layak disebut rumah, karena rumah dinding bambu, tanpa listrik. Saat Bawor kumat sempat pula dibawa ke  RSUD Kebumen, juga PKU Muh. Kebumen. bahkan sampai ketika keluar dari PKU Muh. Kebumen, dengan tagihan beaya pengobatan sekitar Rp. 6.000.000,-an,  ampai sekarang belum terbayarkan. demikian pula yang ada di RS Wirosaban, Ongkos Periksa Dokter serta Obat obatan di  RS Sarjito, sampai sekarang hanya tanggungannya KTP, Partiman. dari PKU MUH. Kebumen dirujuk ke di PKU Muh. Yogyakarta.
Sekarang Bawor terbaring, menunggu uluran tangan pembaca dan siapa saja di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. kurus kering, tinggal Tulang berbalut kulit,
Kata Istrinya, Bawor sempat mau Bunuh diri, karena Putus asa.
Istrinyapun juga dilematis, karena dia juga harus Ngamen setiap harinya, ” Kadang saya harus keluar, seharian dan hanya berbekal Icik- Icik ( tamborine ), Kata Iyah yang buta huruf dan tidak tahu harus kemana lagi meminta bantuan, sebab tidak ada lagi harta yang dipunyai.
Apabila ada teman teman yang berniat membantu silahkan sisihkan sedikit harta anda ke rekening BCA KCP Katamso: 4450989865, a/n Endra Harsaya SSn.
Atas perhatian dan bantuan teman teman semua diucapkan banyak terimakasih !

Mencoba Editting ” AV NEWS ! “

Rekan rekan, yang budiman !

Salam Hormat dan salam Sejahtera

Sebagai pecinta dunia Jurnalis, aku suka banget menulis tentang berita berita yang langka dan yang jarang disentuh media lain. Human Interst selalu menarik. tetapi kadang aku sangat capek disela sela kegiatanku sebagai pengobral Oral, dari tempat satu ketempat lain, dari panggung satu ke Panggung lainb, dari acara satu ke Acara yang berbeda.

setelah bertahun tahun di bidang Audio, sekarang aku mencoba belajar ke Audio Visual. beberapa hal hala yang dapat aku simpulkan, tenyata di Audio Visual, lebih pelik. butuh waktu panjang untuk belajar dan bekerja. selain memilih musik, jenis visual serta Timing yang tepat.

selain itu harus didukung juga piranti / prasarana yang harus memadai, sedangkan aku harus mengakui bahwa , apa yang ada ditempatku jauh dari standar, kurang representative. tetapi aku cukup  bersyukur.

aku juga masih mengharap saran serta bimbingan dari teman teman yang melihat hasil hasil ini, semoga bisa menjadikan semuanya lebih baik, paling tidak mendekati kesempurnaan.

Dan tentunya mendapat Restu dari Tuhan Alloh SWT… Amien Ya Robbal Alamin. terimakasih. !!!